Aku Korban Malpraktik

Sebagai syarat untuk kuliah di Amrik, ada beberapa syarat kesehatan yang harus aku lalui. Salah satunya adalah imunisasi Meningococcal Meningitis Vaccine. Tempat pertama yang saya datangi untuk bertanya mengenai hal ini adalah klinik Pramita di Jogja. Setelah berkonsulatasi dengan dokter di Pramita, mereka meminta saya untuk ke rumah sakit yang besar karena di klinik tersebut tidak memiliki obat imunisasi Meningitis tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit Panti Rapih di Bulaksumur Jogjakarta. Setelah mendaftar, saya diminta untuk ke dokter umum bernama dr. Lucia Wahyu Hartati.

Dengan dr. Lucia saya terangkan bahwa saya akan berangkat ke Amerika untuk kuliah, dan saya harus mendapatkan berbagai imunisasi sebagai syarat masuk. Karena banyak banget imunisasi yang harus aku dapatkan, sementara ada imunisasi yang sudah aku dapatkan waktu kecil, maka aku diminta untuk mengecek kembali apa saja imunisasi yang sudah aku dapatkan waktu kecil. Untuk menyicil imunisasi, saya minta untuk diimunisasi dulu dengan imunisasi yang saya pasti belum pernah mendapatkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil imunisasi Meningitis sebagai tahap pertama.

dr. Lucia akhirnya menelpon bagian anak (karena imunisasi memang di bagian anak2) untuk mempersiapkan saya menerima imunisasi Meningitis. Setelah selesai menelpon, dr. Lucia meminta saya untuk ke lantai 2 di bagian anak2 untuk disuntik. Di bagian anak2 saya diterima oleh suster yang meminta saya untuk membayar biaya imunisasi sebesar Rp193,000 sementara dia mempersiapkan alat suntik dll. Setelah saya membayar saya disuntik imunisasi tersebut.

Besoknya, daerah lengan bagian atas saya di sekitar tempat saya disuntik terasa linu, sedikit bengkak, dan warna kulitnya menjadi kemerahan. Saya tidak punya prasangka buruk apapun karena saya menduga kemungkinan ini adalah efek samping dari imunisasinya.

Hari ini saya pergi lagi ke Panti Rapih untuk meminta bukti kalau sudah melakukan imunisasi Meningitis sekaligus menanyakan apakah lengan saya yang bengkak ini normal. Setelah saya tunjukkan bengkak di lengan saya, dr. Lucia tampak bingung, akhirnya dia bilang kalo dia bukan ahli di bidang ini. Akhirnya saya dikirim ke bagian anak lagi, kali ini bertemu dengan dokter yang spesialisasinya anak (saya tidak mencatat namanya).

Ketika bertemu dengan dokternya saya ungkapkan keluhan saya dan saya informasikan mengenai syarat ke kesehatan yang harus saya dapatkan sebelum berangkat ke Amrik. Ketika melihat berkas kesehatan saya, dia kaget dan langsung ngomong ke suster yang saat itu berada di dekatnya “Kok dikasih HIB? Kan HIB untuk anak 4 tahun kebawah?”

Saya kaget banget mendengarnya. Lalu saya tanya “Lo kemarin bukan Meningitis to bu?”

Ibu dokter tersebut menjawab “Bukan itu HIB. HIB itu ……..(aku lupa intinya HIB itu bagian dari Meningitis atau apalah)… Kalau mau imunisasi Meningitis itu biasanya di Depkes. Biasanya orang kalo mau naik haji itu diimunisasi ini dulu”. Lalu ibu dokter tersebut bertanya ke suster lagi “Siapa kemarin yang nyuntik?”

Para suster tersebut tampak bingung siapa yang menyuntikkan imunisasi tersebut. Saya pun tidak melihat orang yang menyuntik saya di ruangan tersebut. Akhirnya mereka seperti tidak berusaha lagi tuk mencari tahu, dan hanya duduk ngobrol dengan suster yang lain.

Sementara itu dokter anak yang menangani saya menegaskan bahwa dia disini dalam rangka menangani keluhan saya mengenai bengkak di lengan, dan tidak terkait dengan suntikan yang saya dapatkan kemarin. Akhirnya saya diberi resep obat lagi berupa gel untuk bengkak kemerahan di lengan saya. Obat tersebut seharga Rp105,000.

Bisa dibilang bahwa saya mengeluarkan Rp193,000 tersebut untuk mendapatkan sakit sehingga saya harus membayar Rp105,000 untuk pengobatannya.

Bagaimana seorang dokter bisa begitu teledornya dengan tubuh pasiennya, sehingga hal seperti ini terjadi. Bukankah dunia dokter seharusnya penuh kehati-hatian. Saya bisa dibilang masih beruntung karena akibatnya tidak fatal, bagaimana dengan yang tidak seberuntung saya, kasihan sekali mereka.

Para dokter Indonesia pun tidak percaya dengan dokter kita sendiri. Sudah menjadi hal yang biasa dimana dokter di Indonesia pun ketika sakit perginya ke Singapore untuk berobat. Sementara yang ga mampu tuk ke Singapore tuk berobat, seperti saya, harus terima saja dengan ketidak becusan mereka dalam menangani pasien-pasiennya.

4 Responses to “Aku Korban Malpraktik”

  1. yanee Says:

    Dear Dino,
    aku ikut prihatin atas kejadian yg dirimu alami. Bukan mau belain ato jelek2in temen sejawat sih.. HiB itu sebenernya singkatan Haemophilus influenza (type) B yang notabene adalah penyebab meningitis terbanyak pada anak2. Krn mgkn dokternya nggak biasa dgr org naik haji jg imunisasi itu (dr namanya mgkin non kali ya?).. jdnya dia menyimpulkan tuk memberikan HiB.Begitcu…
    Wah, mo sekolah di US nih? sukses ya :)

  2. yanee Says:

    Tapi emang sih..seharusnya dia ngerti :p

  3. dewi Says:

    Dino…
    sorry.. walopun gue sebenernya ga mudeng apa tuh HIB. tapi gue rasa tuh perlu ditindak lanjuti deh… mungkin lo bisa bilang ma ujung pangkal yang mereferensikan lo kesana supaya tidak pernah lagi mereferensikan orang-2 yang mau pergi ke luar kesana lagi… paling ngga..ga ada lagi kejadian yang sama kaya lo…
    din… sukses yah… ntar gue ke yk ma nu’ sebelom lo berangkat… (bawa list oleh-2) =)

  4. Olivia Says:

    hehehe, utk meningitis, aku juga suntiknya HIB pas di jkt. dan sama UD juga oke2 aja, ga disuruh suntik ulang. untungnya ga pake bengkak segala saat itu.

Leave a Reply